Minggu, 5 September 2010  
 
 
 
 
 
 
Support Online :
HAIDAR NOER
Yustin
Aris Salatiga
Praptono
Berliansyah

Anda Pengunjung ke:
37.822










 
DETAIL ARTIKEL
RUDOLF DIESEL, PENEMU MESIN DIESEL
28/3/2007 14:45:35
OTOMOTIF, Jakarta, 2


Bicara tentang perkembangan mesin diesel, tak bisa lepas dari perjalanan hidup sang penemu, Rudolf Diesel. Lahir dari keluarga menengah ke bawah, dia nyaris tak bisa menikmati bangku sekolah. Meski taraf kehidupannya kemudian mengalami peningkatan, kemalangan bak enggan pergi dari lelaki berdarah Jerman, tapi lahir di Paris pad 1858 ini. Terbukti, kematiannya hingga kini tetap misterius. Ada versi soal kesehatannya yang makin memburuk. Peran mata-mata, hingga bunuh diri.

Lulusan terbaik

Diesel kecil memang malang. Berasal dari keluarga pas-pasan, dia pun sering berpindah tempat tinggal. Dari satu flat ke flat yang lain. Sampai akhirnya, perang Franco Prussia memaksa Rudolf dan keluarganya hengkang ke Inggris.

Di tempat baru ini, kehidupan malah lebih sulit. Sampai-sampai, kedua orang tuanya terpaksa menitipkan Diesel kepada pamannya di Augsburg. Di sinilah ia pertama kali merasakan dunia sekolah. Bakat alamnya di bidang matematika dan mekanika segera terlihat, membawanya lulus dengan predikat terbaik.

Dengan rekomendasi sang guru, Diesel diwawancara direktur pendidikan Bavaria. Alhasil, ia mendapat beasiswa untuk belajar di Politehnik Munich yang cukup prestisius. Di tempat ini, ia banyak mendapat bimbingan dosennya, Carl von Linde, penemu mesin pendingin amonia.

Gemblengan tadi, lagi-lagi membuatnya lulus sebagai predikat terbaik. Sekaligus terpilih menjadi general manager sebuah pabrik es pertama di Paris. Karirnya terus berkembang, hingga ia dipercaya sebagai distributor resmi mesin-mesin buatan Lindes ke Eropa Selatan.

Di usia 30, Rudolf Diesel menikah dan mempunya 3 orang anak. Saat itu, di komunitas ilmuwan Eropa, ia sudah dikenal sebagai salah satu insinyur berbakat. Terbukti dari banyaknay paten yang didapatnya dalam menciptakan metode produksi es dengan jernih.

Pada 1892 dan 1893, paten didapatkannya setelah menemukan tipe baru mesin yang disebutnya Verbrennungskraftmaschinen. Mesin ini merupakan penyempurnaan mesin uap karena lebih efisien dan bertenaga. Sayangnya, masih banyak kendala menghadang, terutama soal tekhis. Toh, ia tak mau menyerah guna mewujudkan hasil temuannya dalam bentuk yang kongkret dan bisa diproduksi massal.

Sampai akhirnya, ia mendesain mesin 4 langkah pertamanya yang bersilinder tunggal. Mesin ini beroperasi dengan uap bensin yang disemprotkan ke ruang bakar di titik kompresi tertinggi. Resmi beroperasi Juli 1893, sempat diadakan pembenahan bentuk piston dan pemasangan indikator tekanan.

Namun mesin yang disebut ‘black mistress’ ini hanya mampu membangkitkan tenaga sekitar 2 hp. Tidak cukup untuk mengalahkan gesekan dan kompresi yang hilang. Konsekuensinya, mesin kudu didesin ulang.

Jetset

Model kedua dites akhir 1894. perbedaan besar ada pada penempatan pompa bahan bakar. Februari tahun berikutnya, ia mencatat sebuah kemajuan besar. Mesin ini disambungkan dengan sabuk di sebuah pabrik pembuatan sabun dan menemukan sabuk itu aus. Ini menandakan, mesin Diesel untuk pertama kalinya telah menghasilkan tenaga yang cukup untuk bisa beroperasi.

Tak lama, mesin disempurnakan dengan mendesain ulang nosel dan saluran bahan bakarnya. Maklum, proses pembakaran masih belum teratur. Namun proses ini menemui jalan buntu, sampai akhirnya Diesel meminta bantuan Robert Bosch. Kemajuan mulai nampak dengan cara membedakan jumlah udara yang disemprotkan dengan cara membedakan jumlah udara yang disemprotkan dengan bahan bakar, yang pada saat itu masih terbatas pada minyak tanah dan bensin saja.

Sedangkan mesin generasi ketiga dibuat dengan perbandingan langkah dan diameter lebih kecil, plus 2 injektor. Satu menyemprotkan cairan bahan bakar, satu lagi campuran udara dan bahan bakar. Cara ini menghasilkan tenaga 25 hp di 200rpm. Modifikasi terus dilakukan pada injektor, piston dan sistem pelumasan. Sampai akhirnya siap diproduksi massal pada akhir 1896.

Sejak itu, Diesel mulai mengalihkan perhatiannya pada keluarga, musik dan fotografi. Uang makin mengalir, setelah sebuah konsorsium berniat memproduksi mesin Diesel di Prancis, Inggris dan Rusia. Seorang pengusaha bir dari Amerika, Adolphus Busch bahkan membeli mesin untuk pabriknya di St. Louis. Busch juga membeli hak paten untuk pasar Amerika senilai ¼ juta dollar.

Sukses di industri, Diesel merambah dunia otomotif. Ada dua jenis mesin. Paling kecil bertenaga 5 hp, tapi penjualannya kurang menggembirakan. Langkahnya ini didikuti Mercedes-Benz pada 1936. menyusul Austin, Land Rover dan Peugeot. Begitunya, fokus utama diesel ini masih pada penghematan bahan bakar dan umur panjang. Karena performanya jelas masih kalah dengan mesin bensin.

Di dunia perkeretaapian, bekerja sama dengan Sulzer Brothers (Swiss), Diesel membuat mesin lokomotif. Sayang, hasil tes pertamanya kurang menggembirakan. Sampai di tahun 1914, Prussian and Saxon State Railways menggunakannya buat usaha mereka.

Buat maritim, mesin diesel mulai diaplikasi pada 1902. Hebatnya, angkatan laut Prancis ikut menggunakan di kapal mereka. Keunggulan utama mesin, tak banyak menyita ruang. Selain itu, dibanding mesin uap, mesin diesel lebih kompak dan bersih.

Toh, sehebat-hebatnya Diesel, sebagai manusia, dia juga punya keterbatasan. Di usia tua, sakit kepala (migraine) mulai mengganggu. Pekerjaan pun terbengkalai, terlebih mulai banyak orang baru yang lebih pintar bermunculan. Tambah parah, keuangannya juga makin amburadul, lantaran gaya hidup jetset.

Nah, saat menyeberang feri dari Antwerp ke Warwick, diesel menghilang dari kabinnya. Ia ditemukan meninggal beberapa hari kemudian di tengah selat itu. Banyak yang mensinyalir kematiannya karena buhuh diri. Namun, beberapa surat kabar Inggris mencium bau campur tangan agen rahasia asing, yang tidak ingin mesin Diesel dipakai angkatan laut Inggris.

(Teks diambil dari buku SERBA DIESEL-Koleksi OTOMOTIF, OTOMOTIF, Jakarta, 2000)


(dibaca: 1648 | dikirim ke teman: 138 | dicetak: 1053)
 
CARI TIPS
MEMBER LOGIN
ID member
password
Google


Copyright © 2007-2008 MONTECARLO GROUP. Allright reserved   
Developed by a.w.